Posted by: nekomarusama | November 29, 2010

[CErita PERjalanan] Gede Via Selabintana

[prelude]
naik gunung gede lewat cibodas atau gunung putri membuat anda bosan? cobalah menggunakan jalur selabintana. sebuah jalur resmi pendakian  (hingga saat tulisan ini dibuat) yang merupakan perpaduan dari kedua jalur pertama diatas. total panjang jalur 11 kilometer (menurut poster di pusat infomasi Pondok Halimun, dan merupakan jalur terpanjang dari 3 jalur resmi yang ada) dengan variasi medan yang sangat beragam serta kejutan-kejutan yang mewarnai sepanjang jalan. merupakan jalur yang paling dihindari oleh kebanyakan pendaki, mengakibatkan jalur ini kurang populer dan hanya diberi kuota 100 dari 600 kuota yang ada. but yet, its provides something wonderfull behind what everybody said about it. berikut adalah sepenggal cerita perjalanan kami mendaki gunung Gede via Selabintana. semoga ada manfaat yang bisa diambil dari cerita yang kami sadari terdapat banyak sekali kekurangan di dalamnya.

[6.00-7.00; base camp Panthera, selabintana]
suara burung dan gemericik air sungai, serta hilir mudik pedagang nasi kuning dekat base camp membuat suasana pagi itu ceria. beberapa anggota tim mulai beraktifitas dengan jalan-jalan sekitar base camp, ada yang berfoto-foto (karena memang suasana sangat mendukung), dan ada juga yang masih tidur dengan pulas karena mendapat tempat tidur PW (puwosisi wuenak). perut yang lapar memaksa kami untuk mencari sekedar pengganjal, pilihan jatuh pada nasi kuning, gorangan dan buras(lontong isi). tepat pukul 7 pagi, kami berpamitan dengan penjaga base camp dan memulai perjalan.
[07.00-07.11; camp site 1, percabangan antara jalur interpretasi dan jalur pendakian]
perut yang lapar memaksa kami untuk menyantap sarapan. shelter yang ada dekat pertigaan menjadi saksi kami menyantap habis nasi kuning, gorengan, serta buras yang tadi kami beli. perjalanan dilanjutkan. kami mengambil jalan ke kiri yang merupakan rute pendakian-jalan setapak dengan susunan batu yang sudah mulai tertutupi oleh semak. jika tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa jalan ini merupakan jalur pendakian, orang tidak akan percaya kalau disana memang ada jalan.
[07.11-10.40; popotumel, POs POhon TUmbang MELintang]
tidak ada nama pos membuat kami menamakannya demikian. area cukup luas untuk sebuah tenda consina magnum 4 yang kami bawa. akan tetapi memang kurang cocok untuk membuka tenda karena berada pada jalur air.
perjalanan menuju popotumel ini memang cukup berat. susunan batu yang mejadi pijakan kami berlumut dan licin. susunan batu yang menjadi jalan terputus di beberapa tempat sehingga mewajibkan kami melakukan sedikit orientasi medan. ada bagian yang memang berupa jalan tanah tidak jelas karena diacak-acak oleh babi hutan. tanjakan mendominasi jalur pendakian sampai dengan popotumel meski secara overall jalur cukup bervariasi (kami masih bisa menemukan bonus turunan dan bonus datar). satu lagi yang kami rasa cukup berat adalah sepanjang jalur yang basah dan menjadi surga bagi pacet. kami akhirnya menjadi saksi hidup kerajaan pacet di selabintana. serangan demi serangan membuat kami berhenti hampir setiap 5 menit sekali untuk mengecek anggota badan kami yang diserang oleh pacet-pacet tersebut. hampir setiap 5 menit sekali pula salahsatu anggota tim bernama Rendy berteriak karena ada pacet yang sedang mencari tempat yang PW untuk mulai menghisap darahnya. sungguh, kami mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan kedua jalur lainnya, dan kami semua menikmatinya. :D
sepanjang perjalanan menuju popotumel ini, kami menemukan beberapa hal yang menarik. hal pertama yang pasti adalah jalur yang cukup bersih dari sampah serta keasrian dan kealamian hutan sepanjang jalur pendakian masih cukup terjaga (jejak babi hutan fresh dimana-mana, banyak kayu tumbang karena lapuk, kotoran hewan(entah hewan apa) di jalur pendakian kami jadikan bukti). beberapa Lifa (pohon besar dan eye catching) kami jumpai sepanjang perjalanan. salhsatu pohon tersebut berada persis di sisi jalur pendakian, akar serta batangnya diselimuti oleh (mungkin) semacam lumut bak hutan mini yang menyelimuti sebuah Tree of Ages. pada pohon-pohon yang telah mati, kami menemukan beberapa fungi dengan bentuk yang menarik dan berbeda dengan jamur yang selama ini sering kami makan :D . mengenai pacet, kami mengidentifikasi 2 jenis pacet yang menyerang kami. jenis pertama adalah pacet daun (karena mangkalnya di bawah daun), memiliki warna dasar kuning , hijau terang, dan warna lain yang membentuk pola tertentu pada punggungnya sehingga terlihat cukup menarik dan ‘geli’ jika kita memperhatikan bentuk, warna serta gerak geriknya sekaligus. ketika bergerak, pacet jenis ini bisa memanjang hingga hammpir 5x panjangnya semula. pacet jenis kedua adalah pacet tanah (yang ini mangkalnya di tanah, di serasah daun yang ada di tanah berbentuk seperti ranting kering). pacet yang satu ini berukuran relativ lebih kecil dari yang pertama dan berwarna cokelat seperti serasah tempat dimana dia hidup. untuk kelenturan dalam bergerak, pacet ini memiliki kemampuan yang sama dengan pacet daun. sebagai perlawanan, kami menggunakan minyak kayu putih untuk melepaskan pacet yang menempel. minyak kayu putih ini diteteskan ke pacet yang menempel lalu sentil pacetnya. cara ini terbukti efektif untuk melepaskan pacet karena terlepas sendiri sehingga resiko gigi pacet tertinggal di dalam kulit semakin kecil.
[10.40-11.04; popese, POs PErtigaan SEmu]
kami sampai pada sebuah tanah cukup lapang untuk 2 atau mungkin 3 buah tenda ukuran Consina Magnum 4. di pos ini ada 3 jalan, yang pertama jalan dari arah selabintana tempat kami datang, jalan ke sebelah kiri agak landai merupakan jalur pendakian, dan lurus agak tertutupi yang merupakan jalan buntu. di sebelah kanan merupakan jurang dengan batu sebagai dinding jurangnya. kami mencoba menyusuri jalan lurus sekedar sedikit berorientasi berujung kepada jurang dan pemandangan lembah di sebelah kanan kami dengan batu granit sangat besar yang membentuk dindingnya. pada dinding di seberang, kami bisa melihat air terjun dan sayup-sayup kami bisa mendengar suara dari air yang terjun dengan bebas ke dasar lembah. sejak pos ini, serangan pacet sudah mulai berkurang seiring dengan melebarnya jalan yang kami lalui dan (mungkin) ketinggian dimana pacet bisa hidup.
[11.04-13.54; pos cileutik, sungai kecil yang dingin]
pos cileutik cukup lapang untuk membuka tenda. pos ini cukup ideal karena tempatnya yang memang dekat dengan sumber air. di pos ini kami istirahat cukup lama karena kami menyempatkan untuk solat dan membuka makanan semi berat karena perut yang memang sudah meminta untuk diisi. :D
dari popese kami mengambil jalan ke kiri yang landai. jalan landai ini hanya sebentar disambung dengan jalan seperti jalan raya puncak yang berkelok-kelok untuk menuju punggungan bukit di atasnya. dari punggungan bukit ini, lembah yang kami lihat di popese semakin jelas terlihat, dan dari sini pulalah kami tahu kalau ternyata lembah tersebut dikelilingi oleh dinding batu granit sangat besar (tepat di bawah kami merupakan batu granit penyusun dinding tersebut). ketika sudah dekat dengan pos cileutik, kami diberi cukup banyak bonus jalan yang datar dampai pos cileutik. sepanjang perjalanan juga kami sempat untuk mengabadikan beberapa fungi dan tanaman yang kami anggap menarik dan berbeda dengan yang sering kami lihat di keseharian kami.
[13.54-16.09; surken, untuk pertama kalinya terlihat]
dari pos cileutik sampai dengan surken kami diberi tanjakan tanpa ampun. 2 jam waktu tempuh seluruhnya adalah tanjakan. bonus yang kami dapat adalah pemandangan Kota Sukabumi yang terlihat ketika vegetasi hutan sekitar kami mulai berubah. kami menganggap ini merupakan ujian akhir sebelum kami disambut langsung oleh luasnya alun-alun surya kencana, auman simfoni air dari sungai kecil di tengah alun-alun dan kemegahan puncak gede di belakang itu semua :-) . sesampai di surken, kami lanjutkan perjalanan sedikit lagi menyusuri alun-alun sampai kami bertemu sisa rombongan yang berangkat lewat jalur gunung putri yang ternyata berkumpul di alun-alun tengah.
sepanjang jalan cileutik-surken merupakan jalur yang sangat berat. persiapkan segalanya di cileutik terutama istirahat yang cukup. area lapang dengan tanda bekas shelter yang telah rubuh merupakan tanda akhir dari tanjakan. shelter yang rubuh ini merupakan pertigaan. jaln ke kanan merupakan jalur untuk ke puncak gunung gemuruh (gunung yang manjadi dinding timur alun-alun) dan ke kiri untuk menuju surken. jalur yang kami ambil menuju surken cukup sulit untuk dilalui karena rapatnya vegetasi semak dan hampir tidak terlihat jika hanya melihat secara sekilas. jalan yang kami lalui waktu itu agak melipir ke sebelah kanan dan muncul di surken dengan tanda batang pohon besar yang rubuh sejajar jalan. ujung rute pendakia selabintana adalah alun-alun suryakencana bagian selatan. sesampai di alun-alun, jika kita beruntung akan disambut dengan meriah. :D

anggota tim Gede via Selabintana
1. Pak Daris a.k.a Dosko. sesepuh yang sudah banyak malang melintang di dunia mendaki gunung. pemilik satu set peralatan legenDARIS untuk mendaki dan segudang pengalaman mendaki gunung yang ada di jawa terutama Merapi yang merupakan matron sekaligus sumber inspirasi baginya. dalam dunia yang dibuat TS, Pak Dosko inilah yang merupakan pemegang Gunung Merapi.
2. Frans Rizal Maulida. teman Pak Dosko dan nubi dalam mendaki gunung seperti TS. LogKeeper yang satu ini sangat handal memainkan instrumen Nikon D5000 yang dibawanya. dalam dunia yang dibuat oleh TS, LogKeeper yang satu ini memiliki bagian hitam mata yang berbeda dengan orang kebanyakan. bagian hitam matanya tidak bulat besar, melainkan hanya bulat kecil dengan empat buah wajik mengelilingi bulatan kecil tersebut.
3. Muhammad Ikbal. termasuk sepuh dalam dunia mendaki gunung. hampir semua gunung di jawa barat pernah didatanginya. sesepuh satu ini memiliki sifat tipikal orang banung: kalem, tapi sekalinya bicara “nyelekit”. dalam dunia yang dibuat oleh TS, orang yang satu ini memiliki kekuatan buah iblis rhino-rhino yang bertipe Zoan.
4. nekomarusama. seorang nubi yang berambisi untuk menjadi setara dengan para sesepuh yang dikenalnya, lalu kemudian bertujuan untuk menjadi salahseorang Nature Guardian. pemilik otak yang selalu kosong dan minta untuk diisi dengan berbagai hal yang ada di dunia ini, sampai-sampai membuat dunianya sendiri dan mengemulasikan segala apa yang ada di dunia nyata ke dalam dunia yang dibuatnya sendiri. dalam dunia yang dibuat oleh TS, orang ini memiliki kemampuan untuk mengubah imajinasi menjadi kenyataan.
5. Rendy Tantian a.k.a Momochi Zabuza. tukang ke mall yang berubah menjadi anak gunung tanpa direstui orangtuanya. melihat tampangnya, siapapun tidak akan percaya kalau dia memiliki hobi rock climbing, sketing, dan naik gunung. meski nubi sama seperti TS, kekuatan yang terpendam dalam dirinya tidak perlu diragukan lagi. terbukti dengan dialah yang selalu berada di garis depan di sepanjang perjalanan. dalam dunia yang dibuat oleh TS, orang ini memiliki tingkat STR, AGI dan INT yang seimbang, sebuah perpaduan tidak biasa dari kekuatan, kelincahan dan kemampuan sihir dalam sebuah tubuh….

TS thanks To:
1. Allah Subhanahu Wata’ala atas segalanya.
2. Gede, untuk tripnya.
3. para Companion TS yang selalu setia.
4. anggota team: Pak Dosko, Ikbal, Frans, dan Momochi.
5. Tanteh Palpi yg sudah urus simaksi.
6. Kang Igor dan Kang [lupa], nerima kami dan mempersilahkan kami untuk beristirahat di base camp Panthera.
7. Mang Dhanis, sesepuh OANC yang dah pinjemin kerir legendarisnya.
8. sopir angkot kampus dalem, sopir angkot bubulak-BS, sopir angkot BS-ciawi, tukang sekoteng, tukang nasi uduk, sopir l-300, kasir alfamaret 24 jam, (tukang ikan, tukang tempe, tukang sayur)pasar sukabumi,sopir angkot SMI-Selabintana, tukang nasi kuning, tukang buras, sopir Bus, ama yang punya lapak di pertigaan bubulak.

catatan:
1. angkot kampusdalem-bubulak 2000;
2. angkot bubulak-BS 3000;
3. angkot BS-ciawi 3000;
4. sekoteng 4000;
5. nasi uduk ciawi 6000;
6. l-300 ciawi-sukabumi 10000;
7. ikan cuwe 5000 4 ekor, tempe mendoan {lupa harganya}, bawang {lupa}, {lupa}{lupa}, {lupa}{lupa};
8. angkot sukabumi-pondok halimun (jam 3 malem) 8000 per orang;
9. buras+nasi kuning di PH {gatau harganya};
10. bus cibodas-ciawi 7000;
11. frutang di pertigaan bubulak 1000;


Responses

  1. Wah, kok lebih enak baca catper dodol model Cikuray ya, wkwk
    Gambarnya mana Boy?
    Paragrafnya berantakan tuh.

  2. Ha3x, akhrnya dipublish juga! Oke2x bagus catpernya,ad slh ketik dikit sih, tpi bgus kok! Kpn jalan2x lagi?

  3. Hebat bro..salut..salut..saluuut..!
    Gw dlu jg sneng naek gunung,tmpt favorit wat rehat gw adlh Pondok Halimun..coz bnyk crita & knangan maniz & horornya di situ.. Pokoknya seru bgt dah., tpi smenjak kawan gw yg biasa jd leader adventure meninggal dunia, petualangan naek gw brakhir….
    Tpi kadang2 gw rindu bgt wat naek lg bareng balad gw.., hikz..hikz..hiks.. :’(

    • ahahahaha, makasih kk udah mampir n kasi komeng. :o
      bwt saia PH emang keren kk, pohonnya gede2 n adem. :D
      saia ikut berduka bwt temen kk yg udah meninggal, tp jangan bikin petualangan berakhir dong kk, kata orang sih we must kip muving :D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.