lg pusing gara2 requirement bertambah,,,,
pusing juga gara2 Um Daris dah minta catper buru2, padahal timekeeper belum kasih bukti perjalanan(futu),,,,
pusing gara2 mood ngeblend gak muncul-muncul,,,,
ya sudahlah….
H-1 lebaran taun ini. itung-itung lagi liburan+gak ada kerjaan. tak ajakin lah temen namanya Doni Firmansyah. temen yang ane add di fb, bukan gara2 ane kenal, tapi gara2 dikira si Doni adek kelas ane pas SMP dulu. kami janjian ketemu di deket koramil cicurug, dan yap, saat itulah ane pertama kali bertatap muka sama yang namanya Doni (padahal di add dah lebih dr setaun yang lalu).
rencana kami janjian sebetulnya ingin silaturahim ke air terjun yang pernah ane liat pas ane gowes ke tangkil. aer terjunnya hanya bisa ane liat dari jauh waktu ane gowes. 2 kali gowes ke tangkil, 2 kali juga cuma bisa liat dari jauh, gak sampai ke bawah aer terjunnya. kebetulan ane liat ada futu aer terjun di efbe temen ane ini, langsung ane tanyain. runut punya runut, ternyata yang di foto efbe tu aer terun yang sama dengan yang ane liat pas gowes ke tangkil. ane kira beda karena si Doni bilang masuk ke sananya itu lewat ciambar.
pagi2 kami janjian ketemu di koramil cicurug. beberapa temen diajak, cuman ternyata gak bisa. akhirnya kami jalan cuman berdua.
perjalanan diawali dengan jalan aspal, rute alternatif mobil yang gak mau kena macet di pasar cicurug. lewat sma 1 cicurug, kami melipir ke jalan setapak dari campuran cor tipis dengan batu dilanjut dengan turunan jalan tanah padet yang meski gak becek, tetep licin. ternyata turunan jalan tanah itu semacam jalan pintas ke jalan yang ada di bawahnya. cuaca cukup bersahabat karena masih pagi, dan awanpun masih awan-awan tinggi, GePang terlihat jelas sekali pada saat cuaca seperti ini.
perjalanan dilanjut jalan aspal yang sudah bolong-bolong di sana-sini. batu2 segede kepalan tangan dan air mendominasi kubangan-kubangan yang ada di badan jalan. melewati bukti kecil diantara 2 sungai, kami disambut tanjakan yang bahkan kendaraan bermotorpun sulit untuk melewatinya tanpa mengambil ancang-ancang. tanjakan ini cukup menguras tenaga, sehingga kami sempatkan istirahat untuk mengatur napas (tanjakan yang meski cuma sebentar, ditambah puasa, benar-benar membuat kami capek).
jalan rusak dan becek menjadi hal yang harus kami lewati selanjutnya. untungnya kali ini jalan cukup landai dan tidak ada tanjakan lagi
. sebuah sekolah dasar dan lapangan bola mengakhiri jalan aspal yang rusak. perjalanan kembali dilanjutkan melewati jalan tanah melewati kebun singkong. sayangnya pohon singkongnya baru ditanam, baru ada batang tanpa ada daunnya, boro-boro bakalan ada umbinya.
. di kebun ini kami sempat melihat air terju tujuan kami di kejauhan. kebun singkong ini juga yang biasanya menjadi pitstop terakhir ane kalau sedang gowes.
melewati jalan setapak, setelah kebun singkong kami masuk ke hutan Agathis dan (mungkin) Puspa. jalan setapak tersebut membawa kami melewati (semacam) tebing tanah yang berakhir di sawah kecil (yang menurut ane kebanyakan kena air, mungkin tanggul di atas jebol) dengan tanaman padi masih pendek namun rebah, dan sungai, serta suara gemuruh yang menandakan kami sudah dekat dengan air terjun yang kami tuju.
dari area sawah ke air terjun ternyata ditempuh hanya dalam waktu kurang dari 5 menit. akhirnya kami sampai di air terjun yang kami tuju. air terjun ini kami tidak tahu namanya. dilihat dari jalan menuju air terjun ini, sepertinya memang belum banyak orang luar tau mengenai keberadaan air terjun ini. air terjunnya sendiri sangat memikat menurut kami. memiliki tinggi lebih dari 10 meter (hanya perkiraan kami, sepertinya lebih), dan memiliki dinding-dinding batu yang eksotis menghiasi kanan dan kiri air terjunnya. berbeda dengan air terjun yang lain, aliran air terjun ini tidak secara langsung jatuh ke kolam di dasar, melainkan menabrak dinding batu terlebih dahulu pada bagian atas, dibelokkan ke kanan, kemudian dibelokkan lagi ke kiri dan baru airnya jatuh ke kolam yang ada di dasar. hawa dan air yang sejuk membuat kami tergoda untuk meminum air langsung dari kolamnya, akan tetapi diurungkan karena kami sedang berpuasa.
.
kami gak bisa lama-lama main air. takur godaan untuk mium semakin menjadi-jadi. setelah puas foto-foto dan mengabadikan aer terjunnya, perjalanan dilanjutkan ke rumah masing-masing dengan menumpang temannya si Kang Doni.
**hmmmm, ternyata susah juga bikin cerita kayak gini, bahasanya kudu dijaga, etc. tapi, semoga berkenan lah bwt semua orang yang bacanya, mohon maaf kalau ada salah….







kalo mo pake bahasa baku, “ane” nya diganti sy dwonk!
By: darisjati on November 11, 2010
at 12:19 pm
Gambarnya di simpen di fb atau flickr aja, trus dikasih link boy, biar jelas.
By: Dosko on November 11, 2010
at 12:49 pm
hmmmm, okok Pak. masupan diterima, cuman kok mood bwt biin catpernya beluman ada Pak…. >_<
By: nekomarusama on November 12, 2010
at 1:44 am